Dari Oktober :



mungkin kau tak menyadari derit pintu
bergesekan dari arah beranda
menyadarkanku bahwa kau sebenarnya tiada
hujan yang menggugurkan daun
meluruhkan nyanyian kerinduan yang nyaris
nyaring..

kau itu tiada
pada hari yang kelabu
namun gemintang bagiku
atau seperti matahari pada pagi hari lalu
: kau tetap ada

dan aku dahaga pada rindu
yang menjelma sunyi
setiap mendung menggayut
seperti Oktober sore ini,
aku terbayang pada iringan kelabu aromamu

aku menutup pintu yang tinggal satu
berwarna putih, warna kesukaanmu

aku menemukan jejakmu tertinggal
pada akhir Oktober
perlahan tersaput hujan

Semarang, 2009

Hari Ini :



















Hari ini menjelma kelabu :


Mungkin kita ingat kala berjalan dibawah guguran bunga
Bukan sakura, ini bunga jalanan
Yang rimbun namun sering membawakan kita cerita
Berupa kalbu semesta
Yang isinya tak perlu berkata-kata
Kita hanya perlu diam dan berdiang
Pada tepian jalan

Hari ini tak akan sama :

Karena ku gayutkan kelabu pada kelopak hatimu
Aku mengguratkan sendu
"Aku mendung", itu katamu
Hingga meski jauh aku tahu bulir-bulir itu hampir pecah dari ujung mata

Hari ini jauh berbeda :

Pada hari yang sama
Selaksa maaf aku kemas untuk hatimu
Hati manusia sama sepertiku
Namun nampak biru yang paling biru

Semarang, 2009

Berkawan Pada Sunyi

Maka kupanggil Engkau, Ujangku
Pada perbatasan dua kota kita berjumpa
Mengenal atas nama dua manusia berbeda kelamin
Tanpa kata kita kemudian mengiyakan

Aku takut hari ini cepat usai dan tak ada lagi waktu buatku bermimpi
Maka pada hari ini aku berkawan dengan nasib,
Membuat janji,
kita akan kembali membuai diri

Kembali pada sepi
Kembali pada sunyi

Semarang, 2009

Episode Perpisahan

Udara terasa pengap disekeliling kita saat itu. Diantara bus antar kota dua provinsi. Tak banyak bicara.
Namun bulir-bulir air hampir pecah dari mataku.
"baik-baik disana?", begitu pesanmu. Kali ini hutan jati aku lewati seorang diri..

Semarang, 2009

Setiap Fajar

bukan hari biasa yang kita sambangi
sebab hari ini begitu kelabu
pada mendung yang menggelayut tebal
kali kesekian aku mencatat
: hari ini akan hujan lebat

kuseka bulir keringat pada kening pengharapan
yang semula tak pernah kujamah tepian
lentera yang semula terang
kini meredup perlahan padam
adakah yang membawa pelita?

pada hujan aku membiarkan hariku lebur
meski kelabu doamu tetap jingga
disela matahari juga kelebat angin

aku mengingatnya dengan fasih
: setiap fajar adalah perjuangan*

Semarang, 2009

Melaut

Keburu waktu lama mengurai dan sauhku terpaut jauh ke dalam samuderamu. Sebelumnya aku sudah membayangkan akan ke laut lepas bersamamu. Namun mimpiku berubah kisut, tersaput awan-awan mendung yang bergelayut.

Salahku melepas jangkar pada lautan surut. Waktu itu katintingku hendak karam disapu gelombang dan aku akan meregang nyawa pada badai semalam. Aku masih terkejut sauhku tersangkut disela-sela karang yang bertumpuk pada akar bakau. Semakin jauh kedalam, semakin aku terpana pada pesonanya.

Bagaimana nadiku masih berdenyut?

Sauhku karatan dalam samuderamu. Semula hanya singgah, namun aku terperangkap. Aku terpikat. Samuderamu berbeda. Segalanya bersahutan dan nampak paling biru dari segala samudera. Aku berada ditepian. Memandang dari kejauhan hutan bakau dalam kerimbunan.

: Aku putuskan melaut pada samuderamu

Semarang, 2009

Menjalin Mimpi

dan rami-rami yang kita jalin sudah akan tiba pada pangkalnya
setelah itu kita akan duduk terpisah
kau di kanan dan aku di kiri
"Usai pula babak merajut mimpi"
padahal harapku masih tinggi
karena musim kemarau pun nampaknya belum akan singgah
dan mengkaramkan kota pada sepi

dengan siapa aku mengurai mimpi?
jika tiada yang disisi menjamah rami
meski sebenarnya
aku bisa menjalinnya seorang diri

Semarang, 2009

Senjaku Patah

senja belum bisa merekah laiknya senja yang memerah
karena kita belum padu pada gemetar langit
juga pada semilir angin yang berputar padamu

sedari waktu kita masih asing pada nama masing-masing
hingga aku belajar mengeja nasib
yang tersamar pada mata yang gemintangmu
: bilakah kita ini satu

lantas apakah memang senja ini paling senja
hari yang lelah manakala tak juga ada titik terang
pada hati yang bertanya
: adakah kita satu?

ajari aku merapal jejak yang kau kemas
jika kau sengaja singgah ke kotaku
namun aku buta, hingga kaupun kecewa
sebab hari itu aku mematahkan senja berulang kali..

: jejakmu belum terbaca olehku

Semarang, 2009

Saya Menulis Saya ..


Terus menulis dari hari ke hari. Entah itu paper kuliah. Tugas Akhir. Puisi. Buku Diary. Apapun itu..terus menulis saja.

Menulis bukan hal yang sulit. Namun untuk menulis, tentu butuh membaca. Dan jika dibiasakan akan jadi ritme yang runtut. Bahkan jadi suatu kebutuhan.

Inspirasi tulisan datang darimana saja. Sering saya temui saat berkendara menuju kampus, jarak tempuh Tembalang - Pleburan selama 30 menit memungkinkan melahirkan ide bukan?

Lahir di Tasikmalaya, 24 Januari 1988. Bermukim di Semarang, tengah merampungkan kuliah di FISIP Universitas Diponegoro, Semarang dan bekerja paruh waktu sebagai jurnalis online pada almamaternya.

Inspirasi

Ilalang. Sulur-sulurnya menyalurkan keyakinan

Tinggalkan Pesanmu

Pengingat

Dengan senang hati saya memperbolehkan teman-teman yang ingin meng-copy paste puisi-puisi saya.
Namun, akan lebih senang hati saya jika teman-teman mau mencantumkan sumbernya.

Dosen saya mencetak tebal dengan huruf kapital kata berikut ini : Plagiarism are not being tolerated!

Terimakasih,

Quotes Favorit

GOOD WRITING COMES FROM GOOD READING.

Jadi, adalah omong kosong jika ada seseorang yang ingin menjadi penulis tapi tidak suka membaca. (Seno Gumira Ajidarma)

Labels