bergesekan dari arah beranda
menyadarkanku bahwa kau sebenarnya tiada
hujan yang menggugurkan daun
meluruhkan nyanyian kerinduan yang nyaris
nyaring..
kau itu tiada
pada hari yang kelabu
namun gemintang bagiku
atau seperti matahari pada pagi hari lalu
: kau tetap ada
dan aku dahaga pada rindu
yang menjelma sunyi
setiap mendung menggayut
seperti Oktober sore ini,
aku terbayang pada iringan kelabu aromamu
aku menutup pintu yang tinggal satu
berwarna putih, warna kesukaanmu
aku menemukan jejakmu tertinggal
pada akhir Oktober
perlahan tersaput hujan
Semarang, 2009


Ilalang. Sulur-sulurnya menyalurkan keyakinan 