3

Berempati Yuk!

Saya : Mas, maaf kalo nggak keberatan, mbaknya naik motor saya aja sampai atas sana. Kasian capek.

Mas2 : oh iya Mbak.. (Ngobrol sama istrinya)

Saya : saya pernah kayak gini Dan sedih karena nggak ada yang berhenti buat bantuin, makanya saya nawarin buat Mbak..

-------------- **

Sepulang kerja aku lihat di tanjakan tanah putih ada sepasang suami istri berjalan kaki. Suaminya mendorong motor yang bannya kempes dan istrinya mengikuti dari belakang.

Sebetulnya agak ragu buat menepi. Tapi bukankah nggak perlu berpikir dua kali untuk berbuat kebaikan?

Kenapa harus?

Karena diabaikan itu nggak enak, teman! Pekan kemarin waktu rantai motor putus, aku harus mendorong motor dari simpang polda sampai Kantor Dan nggak ada seorangpun berempati menawarkan bantuan, termasuk polisi lalu lintas yang kutemui tapi cuma melirik aja.

Jadi, hikmahnya adalah kalau ketemu yang macam ini, berhentilah sejenak. Tawarkan bantuan yang kita bisa. Entah itu berupa tumpangan, pulsa untuk menelepon atau pinjaman uang untuk ke bengkel terdekat.

-------- **

Bukan, sama sekali nggak bermaksud riya' dengan memposting cerita macam ini. Aku cuma pengin menginspirasi orang lain untuk berempati. Karena kita nggak akan pernah tau kapan akan sangat butuh bantuan orang lain.

2

Pulau Rahasia

Pernah membaca buku Enyd Blyton yang berjudul Pulau Rahasia?

Aku menemukannya disini. Setidaknya dalam imajinasiku. Pulau tidak berpenghuni, sepi.

Sayang sekali kapal yang kunaiki tidak mendekat kesana, bahkan nelayan yang turut bersama kami tidak memberitahu jika aku tidak bertanya lebih dulu.

Sambil duduk dipinggir kapal dan bersandar pada tiang kayu, aku melihat pulau itu. Pasirnya putih, banyak semak-semak, deretan pohon kelapa, berbukit, diujungnya ada batu karang kokoh berdiri, juga suara mirip deritan jangkrik terdengar dari kejauhan.

Ah, aku ingin kesana. Berjalan dibibir pantai. Seperti tokoh dalam buku yang pernah kubaca.

Mungkin didalamnya ada gua, buah-buahan liar, mata air segar yang bisa kuminum.

Sayang sekali, padahal aku ingin bapak nelayan membawa kapal kami berlabuh sejenak disana. Tapi ombaknya terlalu besar, terlalu berbahaya jika kami mendekat dan tidak ingin karam karena batu karang.

Pulau Menjangan Besar, Karimunjawa, 23 Januari 2016

19

Perjalanan

Menjelang senja, dan sebelum langit benar-benar mengubahnya menjadi gelap.

Aku mengajakmu kemari. Dimana jalan ini adalah jalan panjang yang tidak berkesudahan, kecuali memang kita hendak mengakhirinya. Aku tidak pernah berpikiran kesana. Menggenggam jemarimu dan mengajakmu berjalan bersama, beriringan. Kadang, kita akan berlari dan timbul rasa takut kamu akan meninggalkanku karena aku terjatuh, mungkin karena kerikil atau kecerobohanku sendiri. Mungkin pula ada kalanya kita akan melambatkan tempo perjalanan, karena disekeliling adalah pemandangan indah yang kau janjikan padaku.


Percayakah kau? Apapun jalan itu. Beriringan bersamamu adalah hal terbaik.

1

Cerita Cinta 1


: Abi

Bagaimana aku bisa berkalang duka jika kau bawakan pelangi setiap waktu?
9

D.I.A : Melarung Rindu


: Laut

Mengayunkan langkah pada pasirmu
Memutar kenangan pada sumpah yang sempat terpatri
Tak rapi, kemudian hilang terseret ombak
Bahkan aku tak mengingat apa yang kuucap

: Debur Ombak
menghapusnya perlahan, tanpa memberiku kesempatan
mempersembahkan kesepian yang selalu berulang

: Angin
berkesiut kencang
memanjakan ujung kerudung
merapikan kenangan yang semula kugenggam
namun kutaburkan begitu saja menuju lautan
"Biarkan ia tumbuh kemana angin memeluknya"

: Karang
apa yang terbayang darinya
jika kenangan tak tumbuh rapi?
aku memangkasnya dari ingatan dan melarungnya ke lautan
7

D.I.A : Rindu


Sebab aku tak pernah berhenti mengenangmu. Karena, hidup berputar, alurnya mudah terbaca. Seperti plastik transparan yang membungkus benda gelap. Atau seperti jendela rumahmu yang menerobos langsung ke halaman. Tanpa penghalang. Tanpa perintang.

Sebab, pusaran waktu seakan berhenti saat aku mengenangmu. Meski aku tak pernah bisa membaca jejak langkahmu, yang paling sederhana sekalipun. Sejenak aku merasa gusar. Tersesat pada kenangan samar yang mulai memudar.

Aku rindu. Hanya sekali ini saja.

*PS : Teruntuk mas Topan, maaf ya aku sedikit mengcopas idenya? :p

1

Selasar Rindu

Semacam suasana setelah hujan. Tak ada yang menanti matahari muncul dengan garangnya. Kami semua berharap matahari menunda tugasnya. Atau kami berharap jika matahari enggan mengingkari janjinya, setidaknya dia akan muncul di pelukan gundukan awan. Tak terlalu terang. Karena kami menyukai hujan. Menyukai aroma tanah yang sembab. Lembab. Pun kami mencintai setiap tetesan yang tersisa pada setiap helaian daun. Diam-diam menikmatinya melalui jendela dan sebuah sesapan teh mint hangat.

Hingga,

Aku hampir lelah merindu. Merindu dengan leluasa seperti dahulu aku belum mengenalmu. Melalui tatapan yang tak penuh. Membuatku selalu tak ingin berhenti menyusuri selasar rindu.

Degup, debar dengan segala yang membuatku selalu ingin kembali pada mula.
4

Bagaimana Rasanya Sendiri




#Jalanan itu masih sama. Sama lengangnya seperti sebelum kepergian dan kepulanganmu..

Rasanya seperti berdiri di persimpangan. Dengan jalan-jalan yang ujungnya fatamorgana. Embun tapi terang tanpa kabut. Ini bukan pagi. Dan, kau menyapaku melalui balik jendela, menerobos lantang celah yang lalai. Kau menyuruhku bergegas, bergegas kemana? Bila nyatanya, aku masih bimbang, kemana langkah kaki harus kuayunkan?

Terlalu lengang. Namun tawamu yang berderai sudah pupus. Bahkan tak tersisa gema yang biasa menempel mesra pada dinding. Bisu. Ini bukan kebisuan, kunamai ini kesepian.

Semarang, 16 April 2011

Teruntuk kawanku yang menyukai warna : Ungu